Minggu, 17 November 2013

KARAKTERISTIK KEPRIBADIAN ANAK TUNADAKSA

Terdapat hal yang tidak menguntungkan bagi perkembangan kepribadian anak tunadaksa, antara lain:
1.     Terhambatnya aktivitas normal sehingga menimbulkan perasaan frustasi
2.     Timbulnya kekhawatiran orang tua yang berlebihan yang justru akan menghambat terhadap perkembangan kepribadian anak karena orang tua biasanya cenderung over protective.
3.     Perlakuan orang sekitar yang membedakan terhadap anak tunadaksa menyebabkan anak merasa bahwa dirinya berbeda dengan orang lain.
Hal-hal sebagaimana dijelaskan diatas, efek tidak langsung akibat ketunadaksaan yang dialami seseorang dapat menimbulkan sifat harga diri rendah, kurang percaya diri, kurang memiliki inisiatif, atau mematikan kreatifitasnya. Faktor dominan yang mempengaruhi perkembangan kepribadian atau emosi anak adalah lingkungan. Atas dasar itulah presepsi sosial yang dapat menjatuhkan perasaan anak tuna daksa  akan berengaruh terhadap self concept-nya. Hal ini disebabkan sikap bela kasihan dari orang lain sering digunakan oleh tuna daksa.

KARAKTERISTIK KOGNITIF

Implikasi dalam konteks perkembangan kognitif menurut Gunarsa dalam Efendi (2006:124)  ada empat aspek yang turut mewarnai, yaitu:
1.     Kematangan, kematangan merupakan perkembangan susunan saraf misalnya mendengar yang diakibatkan kematangan susunan sarat tersebut.
2.     Pengalaman, yaitu hubungan timbal balik antara organism dengan lingkungan dan dunianya.
3.     Transmisi sosial, yaitu pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkungan sosial.
4.     Ekuilibrasi, yaitu adanya kemampuan yang mengatur dalam diri anak.

KARAKTERISTIK INTELEGENSI ANAK TUNADAKSA

Untuk mengetahui tingkat intelegensi anak tunadaksa dapat digunakan tes yang telah dimodifikasi agar sesuai dengan anak tunadaksa. Tes tersebut antara lain Hausserman Test (untuk anak tunadaksa ringan),Illinois Test (The Psycholinguistis Ability), dan Peabody Picture Vocabulary Test. Lee dalam Soemantri (2007:129) mengungkapkan hasil penelitian yang menggunakan tes Binet untuk mengukur tingkat intelegensi anak tunadaksa yang berumur antara 3 sampai 6 tahun sebagai berikut:

DAMPAK KETUNADAKSAAN

Tidak dapat dipungkiri bahwa fungsi motorik dalam kehidupan manusia sangat penting, terutama jika seseorang itu ingin mengadakan kontak dengan lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam sekitarnya. Maka peranan motorik sebagai sarana yang dapat mengantarkan seseorang  untuk melakukan aktifitas mempunyai posisi yang dapat mengantarkan seseorang untuk melakukan aktifitas mempunyai posisi yang sangat strategis, disamping kesertaan indra yang lain. Oleh karena itu, dengan terganggunya fungsi motorik sebagai akibat dari penyakit, kecelakaan atau bawaan sejak lahir, akan berpengaruh terhadap keharmonisan indra yang lain dan pada gilirannya akan berpengaruh pada fungsi bawaannya.
Ditinjau dari aspek psikologis, anak tunadaksa cenderung merasa malu, rendah diri dan sensitif, memisahkan diri dari lingkungan. Disamping itu terdapat beberapa problema penyerta bagi anak tunadaksa antara lain:

ETIOLOGI ANAK TUNADAKSA

Kondisi kelainan pada fungsi anggota tubuh atau tunadaksa dapat terjadi pada saat:
1.     Sebelum anak lahir (prenatal)
Insiden kelainan fungsi anggota tubuh atau ketunadaksaan yang terjadi sebelum bayi lahir atau ketika dalam kandungan dikarenakan faktor genetik dan kerusakan pada sistem saraf pusat. Faktor lain yang menyebabkan kelainan pada bayi selama kandungan yaitu:

LANDASAN PENDIDIKAN LUAR BIASA


Pendidikan Luar Biasa (PLB) di Indonesia mempunyai landasan idiil yaitu Pancasila dan UUD 1945 seperti pada pendidikan pada umumnya. Landasan yuridis formal PLB sudah ada sejak tahun1950 yaitu UU Pendidikan No.12 tahun 1950 dan 1963 pasal 10. Sejak tahun 1989 dengan diundangkannya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional pada tahun 1989 maka landasan PLB jelas terdapat pada pasal 8 dst. Sejak tahun 1991 telah keluar Peraturan Pemerintah No.72 tentang Pendidikan Luar Biasa. Sehingga kedudukan PLB di Indonesia secara yuridis formal telah memadai hanya ada beberapa kekurangan tepatnya antara UUSPN tahun 1989 dengan PP tahun 1991, bagai benang merah yang terputus sehingga perlu adanya revisi atau perbaikan demi penyempurnaan.

TUJUAN PENDIDIKAN ANAK TUNADAKSA

Tujuan pedidikan anak tunadaksa bersifat ganda (dual purpose), yaitu :

1.     Berhubungan dengan aspek rehabilitasi dan pengembangan fungsi fisik, tujuannya adalah untuk mengatasi permasalahan yang timbul sebagai akibat langsung atau tidak langsung dari kecacatannya.

2.     Berkaitan dengan pendidikan, tujuannya adalah untuk membatu menyiapkan peserta didik agar mampu mengembangkan sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagai pribadi maupun anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan ingkungan sosial, budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan dalam dunia kerja atau mengikuti pendidikan lanjutan.


(uu no.2 tahun 1989 tentang Uspn dan pp no.72 tentang PLB)

KLASIFIKASI ANAK TUNADAKSA



Klasifikasi Tunadaksa Dilihat dari Faktor Penyebabnya :
  • Cacat bawaan : sudah terjadi pada saat dalam kandungan atau saat anak dilahirkan.
  • Infeksi : dapat menyebabkan kelainan pada anggota gerak atau bagian tubuh lainnya.
  • Gangguan metabolisme : dapat terjadi pada bayi dan anak-anak yang disebabkan oleh faktor gizi, sehingga mempengaruhi perkembangan tubuh dan mengakibatkan kelainan pada sistem dan fungsi intelektual.
  • Kecelakaan atau trauma : dapat mengakibatkan kelainan ortopedis berupa kelainan koordinasi, mobilisasi,dll.
  • Penyakit yang progesif : diperoleh melalui genetik atau karena penyakit, misalnya dmp (dystrophiamusculorum progressive).
  • Tunadaksa : yang tidak diketahui penyebabnya.












KLASIFIKASI ANAK TUNADAKSA



Klasifikasi anak tunadaksa dilihat dari sistem kelainannya ada 2, yaitu :

1.       Kelainan pada Sistem Celebral (Cerebral Palsy).
Cerebral palsy adalah suatu kelainan gerak, postur, atau bentuk tubuh, gangguan koordinasi, dan kadang disertai gangguan psikologis dan sensoris yang disebabkan oleh adanya kerusakan pada masa perkembangan otak.
Ada 3 klasifikasi celebral palsy, yaitu :

Selasa, 22 Oktober 2013

PENGERTIAN TUNADAKSA


Tunadaksa dapat didefinisikan sebagai bentuk kelainan atau kecacatan pada sisitem otot, tulang, persendian dan saraf yang disebabkan oleh penyakit, virus, dan kecelakaan baik yang terjadi sebelum lahir, saat lahir dan sesudah kelahiran. Gangguan itu mengakibatkan gangguan koorinasi, komunikasi, adaptasi, mobilisasi dan gangguan perkembangan pribadi.

Klasifikasi anak tunadaksa ditinjau dari sistem kelainannya dapat dibedakan atas kelainan pada sistem cerebral dan kelainan pada sistem otot dan rangka. Kelainan pada sisitem cerebral berupa cerebral palsy yang menunjukkan kelainan gerak, sikap dan bentuk tubuh, gangguan koorinasi, dan kadang disertai gangguan psikologis dan sensoris karena adanya kerusakan pada masa perkembangan otak. Cerebral palsy diklasifikasikan menurut derajat perkmbangan otak. Cerebral palsy diklasifikasikan menurut derajat kecacatannya, yaitu ringan, sedang dan berat. Klasifikasi berdasrkan fisiologi kelainan gerak adalah spastik, dyskensia (atetoid, rigid tremor) dan campuran.