Minggu, 17 November 2013

DAMPAK KETUNADAKSAAN

Tidak dapat dipungkiri bahwa fungsi motorik dalam kehidupan manusia sangat penting, terutama jika seseorang itu ingin mengadakan kontak dengan lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam sekitarnya. Maka peranan motorik sebagai sarana yang dapat mengantarkan seseorang  untuk melakukan aktifitas mempunyai posisi yang dapat mengantarkan seseorang untuk melakukan aktifitas mempunyai posisi yang sangat strategis, disamping kesertaan indra yang lain. Oleh karena itu, dengan terganggunya fungsi motorik sebagai akibat dari penyakit, kecelakaan atau bawaan sejak lahir, akan berpengaruh terhadap keharmonisan indra yang lain dan pada gilirannya akan berpengaruh pada fungsi bawaannya.
Ditinjau dari aspek psikologis, anak tunadaksa cenderung merasa malu, rendah diri dan sensitif, memisahkan diri dari lingkungan. Disamping itu terdapat beberapa problema penyerta bagi anak tunadaksa antara lain:
1.     Gangguan Penglihatan Anak Tunadaksa
Penelitian tentang kekurangan atau gangguan penglihatan pada anak tunadaksa cerebral palsy menunjukkan bahwa sejumlah besar dari mereka juga mengalami penyimpangan penglihatan.
2.    Gangguan Pendengaran Anak Tunadaksa
Masalah lain yang dihadapi oleh anak cerebral palsy adalah gangguan ketajaman pendengaran. Semula ada keraguan bahwa kerusakan otak dapat berpengaruh pada kemampuan atau ketajaman pendengaran, sebagaimana kerusakan otak berpengaruh pada kerusakan penglihatan. Hal ini didasari pemikiran bahwa pendengaran tidak memiliki fungsi-funfsi motor, dan berbeda dengan penglihatan yang dibantu otot-tot mata.
Kelainan bicara yang dialami anak cerebral palsy antara lain dysarthria (gangguan bicara pada bagian artikulasinya akibat lemahnya pengontrolan gerak), delayed speech (gangguan bicara karena keterbelakangan mental dan disfungsinya otak), voice disorder (gangguan pita suara), stuttering (gagap),serta aphasia (gangguan bahasa verbal).
3.    Gangguan Presepsi Anak Tunadaksa
Gangguan lain yang bersifat psikologis dari anak cerebral palsy adalah gangguan presepsi. Presepsi dalam beberapa referensi disepakati mencakup pendengaran (auditory), penglihatan (visual), sentuhan (tactile),serta kepekaan modalitas yang lain. Secara kuantitatif anak tunadaksa ortopedi tidak menunjukkan perbedaan dengan yang lain, sebab dalam beberapa studi memang tidak terbukti dan problem penyesuaian diri lebih banyak terjadi pada anak tunadaksa ortopedi maka harus dilihat dari tiga segi, yaitu:
a.      Sikap lingkungan masyarakat terhadap ketunadaksaan yang diderita anak.
b.      Sikap lingkungan keluarga terhadap ketunadaksaan yang diderita anaknya.
Reaksi penderita sendiri terhadap sikap lingkungan dan terhadap kecacatannya. Dapat disimpulkan bahwa masalah untuk anak tunadaksa bukan saja karena kondisi fisiknya yang berkelainan, melainkan masalah sosial dan psikologis pun harus turut diperhatikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar