Tidak dapat dipungkiri bahwa
fungsi motorik dalam kehidupan manusia sangat penting, terutama jika seseorang
itu ingin mengadakan kontak dengan lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun
lingkungan alam sekitarnya. Maka peranan motorik sebagai sarana yang dapat
mengantarkan seseorang untuk melakukan aktifitas mempunyai posisi yang
dapat mengantarkan seseorang untuk melakukan aktifitas mempunyai posisi yang
sangat strategis, disamping kesertaan indra yang lain. Oleh karena itu, dengan
terganggunya fungsi motorik sebagai akibat dari penyakit, kecelakaan atau
bawaan sejak lahir, akan berpengaruh terhadap keharmonisan indra yang lain dan
pada gilirannya akan berpengaruh pada fungsi bawaannya.
Ditinjau dari aspek
psikologis, anak tunadaksa cenderung merasa malu, rendah diri dan sensitif,
memisahkan diri dari lingkungan. Disamping itu terdapat beberapa problema
penyerta bagi anak tunadaksa antara lain:
1. Gangguan Penglihatan Anak
Tunadaksa
Penelitian tentang kekurangan
atau gangguan penglihatan pada anak tunadaksa cerebral palsy menunjukkan
bahwa sejumlah besar dari mereka juga mengalami penyimpangan penglihatan.
2. Gangguan Pendengaran Anak
Tunadaksa
Masalah lain yang dihadapi
oleh anak cerebral palsy adalah gangguan ketajaman
pendengaran. Semula ada keraguan bahwa kerusakan otak dapat berpengaruh pada
kemampuan atau ketajaman pendengaran, sebagaimana kerusakan otak berpengaruh
pada kerusakan penglihatan. Hal ini didasari pemikiran bahwa pendengaran tidak
memiliki fungsi-funfsi motor, dan berbeda dengan penglihatan yang dibantu
otot-tot mata.
Kelainan bicara yang dialami
anak cerebral palsy antara lain dysarthria (gangguan
bicara pada bagian artikulasinya akibat lemahnya pengontrolan gerak), delayed
speech (gangguan bicara karena keterbelakangan mental dan disfungsinya
otak), voice disorder (gangguan pita suara), stuttering (gagap),serta
aphasia (gangguan bahasa verbal).
3. Gangguan Presepsi Anak
Tunadaksa
Gangguan lain yang bersifat
psikologis dari anak cerebral palsy adalah gangguan presepsi.
Presepsi dalam beberapa referensi disepakati mencakup pendengaran (auditory),
penglihatan (visual), sentuhan (tactile),serta kepekaan
modalitas yang lain. Secara kuantitatif anak tunadaksa ortopedi tidak
menunjukkan perbedaan dengan yang lain, sebab dalam beberapa studi memang tidak
terbukti dan problem penyesuaian diri lebih banyak terjadi pada anak tunadaksa
ortopedi maka harus dilihat dari tiga segi, yaitu:
a. Sikap lingkungan masyarakat
terhadap ketunadaksaan yang diderita anak.
b. Sikap lingkungan keluarga
terhadap ketunadaksaan yang diderita anaknya.
Reaksi
penderita sendiri terhadap sikap lingkungan dan terhadap kecacatannya. Dapat
disimpulkan bahwa masalah untuk anak tunadaksa bukan saja karena kondisi
fisiknya yang berkelainan, melainkan masalah sosial dan psikologis pun harus
turut diperhatikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar