Implikasi dalam konteks
perkembangan kognitif menurut Gunarsa dalam Efendi (2006:124) ada empat
aspek yang turut mewarnai, yaitu:
1. Kematangan, kematangan
merupakan perkembangan susunan saraf misalnya mendengar yang diakibatkan
kematangan susunan sarat tersebut.
2. Pengalaman, yaitu hubungan
timbal balik antara organism dengan lingkungan dan dunianya.
3. Transmisi sosial, yaitu
pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkungan sosial.
4. Ekuilibrasi, yaitu adanya
kemampuan yang mengatur dalam diri anak.
Untuk mengembangkan fungsi
kognitif sebagai alat adaptasi terhadap lingkungan, dapat dilakukan melalui dua
proses yang saling memengaruhi. Proses tersebut yakni asimilasi (integritas
elemen-elemen dari luar terhadap struktur yang sudah lengkap pada organism) dan
akomodasi (proses dimana terjadi perubahan pada subjek agar bisa menyesuaikan
terhadap objek yang ada di luar dirinya).
Tunadaksa di bagi menjadi dua
yaitu tunadaksa ortopedi dan tunadaksa saraf, meski keduanya termasuk dalam
tunadaksa yang memiliki gejala kesulitan yang sama, namun jika ditelaah lebih
lanjut terdapat perbedaan yang mendasar. Dari segi kognitif misalnya, wujud
konkretnya dapat dilihat dari angka indeks kecerdasan (IQ). Kondisi
ketunadaksaan pada anak sebagian besar menimbulkan kesulitan belajar dan
perkembangan kognitif. Khususnya anak cerebral palsy, selain
mengalami kesulitan dalam belajar dan perkembangan fungsi kognitifnya, mereka
pun seringkali mengalami kesulitan dalam komunikasi, presepsi, maupun control
geraknya, bahkan beberapa penelitian sebagian besar diketahui terbelakang
mental (tunagrahita).
tampilan blog nya sudah bagus tapi sebaiknya tata letak disesuaikan lagi karna terkesan tidak rapi
BalasHapus